Suasana arena pertandingan semakin riuh dan kacau melihat Leena dan Khorr berhadapan. Teriakan penonton meledak, bukan karena euforia, melainkan oleh amarah dan kekecewaan yang membakar dada mereka.

"Apa-apaan itu! Ketiga-tiganya tumbang?!" kata salah satu penonton yang marah.

"Taruhan ku hancur semua! Gila, ini pasti curang!" penonton lainnya berteriak.

"Mana mungkin si gadis itu bisa selamat dari mereka bertiga?!"

Beberapa bahkan melemparkan botol minuman ke bawah tribun, sementara yang lain hanya menatap layar raksasa dengan wajah pucat. Tak ada seorang pun yang menduga bahwa tiga petarung paling menjanjikan, yang diprediksi akan menjadi bintang utama, justru tumbang... dan bukan hanya kalah, mereka benar-benar dipermalukan.

Sementara itu, di antara hiruk-pikuk yang mengguncang langit-langit arena, Lynx duduk tenang di salah satu sudut tribun tertinggi, tubuhnya sedikit condong ke depan, wajahnya mengkerut dalam diam.

Dari awal pertandingan, dia sudah melihat wajah orang bertopeng logam berbentuk tengkorak dengan mata langitnya. Wajah yang sama dengan wajah yang sangat dikenalnya, namun saat ini bukan wajah itu saja yang membuatnya terkejut, tetapi kekejaman dan kekuatannya juga membuat Lynx menghela napas panjang.

"Orang itu... Meski wajahnya sama tetapi sifatnya sangat jauh berbedda, Dia bukan hanya petarung biasa. Kalau aku tak salah lihat, dia bisa mengendalikan... tubuh dan senjata mereka. Kurasa dia memiliki kekuatan khusus sejenis telekinesis." pikirnya dalam hati, tatapannya tak lepas dari sosok Khorr.

Kepalanya sedikit menoleh ke kanan, mengamati bagian tribun lain yang mulai ricuh karena hasil pertandingan.

"Pertandingan ini sudah hampir mencapai puncaknya... seharusnya Isha sudah dibawa ke sini. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda. Di mana mereka menyembunyikannya?"

Kilasan kekhawatiran melintas di matanya sebelum segera ia singkirkan.

Sebelum berhasil masuk ke arena ini, Lynx dengan kecepatan tinggi telah menyergap salah satu tamu undangan yang terlihat datang sendirian dan membawanya ke suatu tempat. Dengan kecepatan yang sama, mustahil ditangkap mata, ia melepaskan gelang identitas dari lengan pria itu dan memindahkannya ke tangannya sendiri. Semua dilakukan tanpa menimbulkan suara ataupun gerakan mencurigakan.

Gelang itu berisi chip akses dengan sensor biometrik yang akan membunyikan alarm jika dilepas sembarangan. Tapi dengan teknik manipulasi otot halus dan presisi waktu, Lynx menyelipkan gelang itu tepat saat jantung pria tersebut masih berdetak dalam ritme yang sama, sehingga tidak ada sistem yang menyadarinya telah berpindah tangan.

Sekarang, ia duduk di tengah kerumunan penonton dengan wajah biasa-biasa saja, seolah hanya penonton lain yang menikmati pertunjukan brutal ini.

Namun di balik sorot matanya yang tenang, ia terus mengaktifkan penglihatan langitnya tanpa berpindah tempat karena sistem sensor kuat yang ada di bangunan tersebut. Lynx memindai seluruh bangunan dari kejauhan, lantai demi lantai, sudut demi sudut, mencari jejak Isha di antara labirin logam dan bayangan.

"Aku tidak menduga jika mereka sangat berhati-hati... Mungkinkah mereka tidak membawanya ketempat ini dan sengaja memberikannya di tempat lain setelah peserta menang nanti?" batin Lynx dengan cemas.

Dan jika dugaan itu benar, maka waktu Lynx hampir habis.

Pertandingan selanjutnya akan dimulai. Jika rencananya meleset... dia mungkin harus masuk ke tengah arena. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai ancaman dan memaksa mereka menyerahkan Isha.

Di arena, Leena menatap tajam ke arah Khorr, matanya tak berkedip memperhatikan setiap gerakannya, mencoba memahami bagaimana pria bertopeng itu mengendalikan benda-benda di sekitarnya.

"Tidak ada qi spiritual... kemungkinan dia memiliki kemampuan telekinetik," batin Leena, sambil mengatur napasnya dan memperhatikan keadaan ketiga lawannya yang lain, memastikan mereka tidak lagi memberikan ancaman.

Tiba-tiba, rentetan duri logam dan pecahan senjata beterbangan dari segala arah, melesat menuju dirinya dengan kecepatan tinggi. Itu adalah senjata-senjata dari lawan-lawan sebelumnya yang telah tumbang. Khorr menggerakkannya tanpa menyentuh, matanya berkilat di balik topeng tengkorak.

Namun Leena tidak gentar. Dengan gesekan ringan pada lantai arena, dia menggeser kakinya, menghindari setiap serangan dengan keanggunan seorang penari. Tubuhnya meliuk, menekuk, memutar, tidak ada gerakan sia-sia. Setiap serangan melintas tipis di samping wajahnya atau hanya menyentuh ujung pakaiannya.

Semakin cepat serangan datang, semakin gesit tubuhnya bergerak.

"Masih lambat," gumamnya pelan, senyumnya tipis.

Dengan satu hembusan napas panjang, Leena menghentakkan kakinya. Ledakan qi spiritual menyebar dari tubuhnya bagaikan denyut kejut tak terlihat, menghantam benda-benda di sekeliling dan membuatnya terlempar jatuh. Khorr, yang tak menduga ledakan itu, terdorong mundur beberapa langkah terkena gelombang kekuatan Leena.

"Saatnya giliranku," ucap Leena datar. "Rasakan jurusmu sendiri."

Ia menyalurkan qi-nya ke udara, dan benda-benda yang sempat dikendalikan Khorr kini berbalik arah. Duri dan pecahan senjata itu menukik balik, menyerbu Khorr dengan kecepatan tinggi. Meski Leena membatasi kekuatannya, tekanan dari serangan itu tetap luar biasa.

Khorr terpaksa bertahan menggunakan benda di sekitarnya membentuk perisai kuat. Tapi satu duri, entah dari mana arahnya, berhasil menembus pertahanan dan menghantam topengnya. Terdengar suara retakan.

Kepingan logam rontok, memperlihatkan wajah misterius di baliknya.

Sebuah wajah muda. Wajah yang tidak asing bagi Leena.

Matanya membelalak.

"Chiko?" ucapnya lirih, nyaris tak percaya.

Sorak-sorai penonton mendadak senyap sesaat, lalu meledak kembali ketika wajah pemuda itu terpampang jelas di layar raksasa. Penonton mengenal wajah itu. Sosok buronan sadis yang terkenal membantai banyak koloni dengan tangan kosong. Bersama rekannya, Sherly, mereka dijuluki sebagai Twilight Abyss.

"Sungguh mengejutkan! Ternyata petarung misterius kita yang dikenal sebagai Khorr... adalah Veyron! Salah satu dari Twilight Abyss yang melegenda karena kekejamannya!" teriak komentator.

"Taruhan kalian, siapkan ulang! Ini bakal jadi pertarungan berdarah!"

Sementara itu, di tengah arena, Leena masih terpaku.

Wajah itu... tak hanya mirip. Itu dia. Chiko, pemuda pertama yang ia dan Lynx temui di pulau Surya. Teman. Rekan seperjuangan. Yang... seharusnya telah mati di tangan kawanan serigala.

"Darimana gadis ini tahu nama asliku? Tak ada satu pun yang mengenalku dengan nama itu..." gumam Chiko dalam hati, matanya menyipit tajam.

Melihat Leena terdiam, Chiko memanfaatkan kelengahannya.

Dengan satu gerakan tangan, tubuh Leena terangkat ke udara. Tangan dan kakinya tertarik kuat ke arah berlawanan, membentuk huruf X. Pedangnya, tergenggam lemah di tangan kanan, ikut terangkat.

Penonton berseru-seru, sebagian dari mereka, terutama dari ras manusia, berteriak liar melihat tubuh Leena terangkat dalam posisi menggoda. Sementara sisanya hanya menatap dengan wajah tegang, merasa pertarungan telah berakhir.

Lynx yang menyaksikan dari kejauhan mengepalkan tangan. Rasa geram membara di dadanya, tapi ia tetap diam. Matanya tak berkedip menatap Leena.

"Aku tahu Leena mengulur waktu menungguku menemukan Isha."

Pedang Leena melayang terlepas dari tangannya. Chiko mengangkat satu tangan tinggi-tinggi, mengarahkan senjata itu langsung ke jantungnya.

"Aku tak tahu dari mana kau tahu namaku... Tapi sampai di sini saja riwayatmu!" seru Chiko, penuh amarah.

Pedang itu melesat menuju Leena. Penonton menahan napas.

Namun tepat sebelum menyentuhnya, aura panas menggelegak meledak dari tubuh Leena. Qi spiritualnya mengamuk, membakar udara di sekitarnya.

Dengan jeritan ringan, Leena melepaskan diri. Tubuhnya menukik turun dan mendarat ringan di lantai arena.

Matanya berkilat, suaranya nyaring dan tajam.

"Golden Abyss Palm!"

Tangannya terangkat, lalu menghantam udara di depannya.

Ledakan qi berwarna emas kehitaman memancar, membentuk gelombang melingkar yang menghancurkan perisai dimana Chiko berlindung dari gelombang qi spiritual yang dilepaskan Leena. Dan gelombang tersebut mengenai dada Chiko keras sekali.

BOOM!

Sosok pria itu terhempas ke belakang, menabrak pagar pembatas arena dan terpental hingga jatuh tak sadarkan diri di luar lingkar pertarungan.

Penonton terdiam beberapa saat, lalu gemuruh suara meledak ke seluruh penjuru arena.

Leena berdiri tegak, napasnya berat, matanya masih tak lepas dari tubuh Chiko yang tergeletak di kejauhan.

"Chiko... Tidak kuduga menemukan kembaranmu di planet ini."

Sementara itu wajah Lynx mendadak berubah. Akhirnya dia menemukan Isha, sedang bersama Sara dan Eliza di sebuah ruangan tertutup yang terlihat lebih mewah dari ruangan lainnya dengan kondisi tangan terikat.

